Tengah malam tetap ramai di ruang kostum. Bangunan berbentuk kamar sederhana yang merekam beribu kenangan ini, menyimpan banyak rahasia yang tidak diketahui khalayak umum. belum sampai 6 bulan kami bersama, namun banyak hal yang sudah kami ukir dengan pemain dan tim make up disini. Mulai dari terbentuknya keluarga baru hingga tumbuhnya benih-benih cinta antar pemain. Cinta anak-anak remaja yang beranjak dewasa.
Kejadian yang menghebohkan mampu dilampaui bersama-sama. Walaupun harus mengorbankan ego dan perasaan. Namun, aku sangat yakin semua ini akan mendewasakan mereka.
Masih dimalam yang sama. Lebih tepatnya beberapa jam setelah pria yang mengaku pacar Tita itu datang. Kehebohan yang hanya terekam oleh empat pasang mata ini meninggalkan banyak tanya dalam hatiku. Dodo dan Tita sudah mulai berbaur dengan pemain yang lain. Dengan menyembunyikan sejuta rahasia, mereka kembali bercenda gurau.
Tepat pukul 3 pagi, para pemain mulai merasakan kelelahan. Beberapa memilih untuk rehat sejenak di kursi empuk mereka. Shela dan Mario sepasang sejoli yang baru dimabuk cinta ini memilih untuk mencari udara segar dengan berjalan-jalan disekitar lokasi.
Agnes dan Tian masih dalam pengambilan take adegan mereka. Maklum saja, pemeran utama selalu menghabiskan banyak adegan dari yang lainnya. Tak berapa lama Dodo beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk istirahat di mobil pribadinya. Menyisakan dua gadis dengan hati yang bercampur aduk. Aku dan Tita termenung melihat Dodo yang berlalu begitu saja. Kecanggungan yang hanya tampak ketika semua orang terlelap ini membuat jarak antara kami. Tita tetap duduk sambil memainkan gadget merah mudanya sembari sesekali melirik ke arahku. Adegan ini dilakukannya berulang kali, membuatku merasa diintai dari kejauhan.
"Apaan?" Kejutku padanya.
Sadar dengan perlakuannya yang membuatku tak nyaman, Tita hanya meringis sebagai ganti permintaan maaf.
Gadis bersuara merdu ini membuatku khawatir tak ketulungan. Kejadian petang tadi pasti membuat hatinya hancur seketika.
Lama menunggunya untuk bersuara, dengan mengumpulkan kemampuan yang tersisa Tita sudah ada disebelahku. Meremas erat jemarinya yang dikatupkan menjadi satu kesatuan.
"Mbak, kita perlu bicara!" Katanya tegas. Kalimatnya mengisyaratkan kegundahan yang sedang menyelimuti hati kecilnya.
"Silahkan!" Jawabku sambil tersenyum.
"Aku jahat, mbak!" Air mata itu mulai mengalir dari mata indah remaja 17 tahun ini.
"Aku sangat jahat!"
Pelukan hangat kuberikan kepadanya. Peluhnya mengalir sampai pundakku. Basah dan hangat.
Bagaimana bisa seorang gadis muda menyalahkan dirinya sendiri atas cinta yang dibuat oleh beberapa orang. Mengorbankan hatinya yang rapuh agar orang lain tak merasakan luka. Jahat sekali mereka membuat hati kecil ini tersungkur tak karuan.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, nduk?" Pertanyaan singkat yang kulontarkan ini mampu membuat air mata Tita berhenti sesaat. Memulai cerita singkat atas kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Singkat cerita seorang pria yang mengaku sebagai kekasih Tita tiba-tiba masuk ke ruang kostum. Tanpa sepatah kata yang terlontar, pria itu langsung mengarahkan tinjuannya kepada Dodo. Kalau saja tak mengelak mungkin wajah tampannya sudah babak belur saat itu juga. Tita dan Dodo yang sedang bersenda gurau kaget tak ketulungan. Untungnya aku tiba disaat yang tepat, kepalan kedua akan terlaksana kalau saja aku tak datang. Sedikit senyum tipis dibibirku tanda kebanggaan karena dianggap pahlawan.
"Gue marah sama dia mbak. Gue memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Tapi, dia marah dan bilang kalau gue jahat. Menghianati cinta yang selama ini udah kita bangun. Gue jahat, mbak!"
Air mata itu kembali berlinang tak karuan. Tak ada yang bisa membendungnya termasuk diriku. Tita yang sedang dirundung masalah namun hatiku ikut menangis. Belum lagi Dodo yang pergi sambil membawa separuh hatinya yang terluka akibat pacar Tita. Tak tahu apa yang dirasakan Dodo kini, nampaknya dia sangat terpukul.
Dodo prov.
Amarah ini nggak bisa gue bendung lagi. Gue tahu gue salah. Membiarkan hati gue masuk disela-sela hubungan orang. Tapi hati gue sekarang sangat sakit. Dia alasan gue bertahan di tempat ini. Dia yang bikin gue tetap tersenyum walaupun rasa letih menghampiri.
"Argh!"
Dodo's prov. End
Kupejamkan mata sejenak sembari mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan pendapat. Menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Udara yang masuk dan memasuki kerongkongan kujadikan kekuatan untuk mulai berbicara.
"Wanita itu selalu menggunakan perasaannya dalam hal apapun, nduk!"
"Emosi yang terbendung akan diolah kembali dalam perasaan yang menghasilkan sebuah tangisan,"
Tita yang mendengarkan dengan khitmad nampak tak paham dengan kalimatku. Alis kanannya terangkat sekilas.
"Intinya kalau lu sudah siap untuk menjalin sebuah hubungan, berarti lu harus siap dengan perpisahan yang kapan aja bisa terjadi dengan alasan apapun. Itu hukum alam, Ta!"
"Iya, mbak. Gue tahu itu. Tapi yang jadi masalah, sekarang ada dua orang yang hatinya merasa disakiti. Dan semua itu adalah kesalahan gue!" Selanya ngotot.
"Ta, nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepan. Gue dan lu dipertemukan tanpa kita rencanakan. Itu juga yang terjadi sekarang. Tanpa lu bisa menolaknya semua ini terjadi begitu saja. Ketika cowok lu mulai ngegantungin hubungan kalian, itu semua karena rasa takut kehilangan dan nggak ada kepercayaan antara kalian."
"Biarkan ini berjalan apa adanya. Malam ini semua butuh waktu untuk berpikir jernih. Butuh banyak kekuatan untuk menyokong hari esok yang lebih berat. Cinta memang pembohong. Membiarkan kita dimabuk kepayang hingga lupa diri. Tapi itu semua adalah perjalanan yang nggak bisa lu acuhkan begitu saja. Yang bisa lu lakukan sekarang adalah memejamkan mata dan tidu!"
Kutarik lembut kedua lengan Tita, membawanya kesebuah tempat nyaman dipojokan ruangan. Kasur mini empuk milik mas Kiki ini bisa membuatnya merasa rileks sejenak.
Kami tak melanjutkan pembicaraan lagi. Ada rasa tidak puas dalam diri Tita yang nampak dengan jelas. Aku tak begitu memperdulikan hal tersebut. Tak ada yang bisa diselesaikan dengan hati yang sedang dipenuhi amarah.
Didepan pintu ruangan ini aku menyenderkan tubuhku. Memeriksa ponsel canggih yang kau berikan untukku. Mengelus wajahmu yang hampir kulupakan beberapa bulan ini. Rasanya menyakitkan, kalau saja aku tak ingat masih ada hari esok yang tinggal menghitung jam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar