Akhir-akhir ini akting kita mengalami penurunan yang signifikan.
Penonton mulai bosan dengan rajutan asmara yang kita pertontonkan. Mereka mulai protes di dunia maya, meminta kita seperti yang dulu.
Aku bingung dengan apa yang mereka lakukan. Menamakan diri sebagai pengagum kita. Namun bak demonstran di jalan, mereka menjadi orang yang bersuara keras ketika kita melakukan keasalahan.
Lalu siapa yang harus disalahkan?
Sutradara?
Kita?
Pengagum kita?
Atau Tuhan?
Aku kembali berpikir untuk mencari bagian yang hilang dari adegan kita. Semalaman terjaga hanya demi esok hari yang lebih baik. Demi semua penonton agar tak kecewa lagi.
Dalam malam panjang ini aku semakin berpikir, kita seperti tulang punggung keluarga. Demi menghidupi beberapa kepala keluarga, kita nekat menjadi dewasa sebelum waktunya.
Mempertontokan kemesraan yang mungkin baru kita ketahui. Hingga pada akhirnya hati itu tumbuh diantara kita.
Kau dan aku senang mengetahui hal tersebut. Akting kita semakin bagus ketika kuncup itu mulai mekar.
Satu dari seribu belia yang berani mengatakan janji sehidup semati.
Ketika pagi ini datang dan aku kembali tak melihatmu di lokasi.
Perasaan ragu ini mulai menggerogoti hatiku yang sudah mekar sempurna. Profesionalitas menjadi dinding yang tanpa sengaja kau buat.
2 hari pertama serasa 2 minggu, pertengahan minggu kedua serasa bulan kedua. Dan pada 2 bulan terakhir aku seperti menunggumu di akhir tahun.
Jiwa dan ragamu memang untukku, tapi percuma jika hatimu masih suka melancong kemana-mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar