Selasa, 01 Juli 2014

Sekarang Giliran Tita


"Manusia penyabar itu
melihatku dari balik lamunan.
Dengan malu,
sesekali menangkap pandanganku.
Menjagaku dari kejauhan,
ketika lelah menghampiri."



Untaian kalimat indah itu terpampang sebagai walpaper telepon pintar seorang wanita. Setiap kalimat mengandung kerinduan mendalam dari empunya. Entah kepada siapa, yang jelas gue yakin itu untuk seorang pria yang telah lama ia nanti.
Bintang Mayang, keturunan Sumatera yang berwajah Jawa tulen. Wanita berusia 21 tahun dengan hijab dan pakaian alakadarnya.
Wanita misterius dengan segudang imajinasi yang selalu membuat kami merasa nyaman. Teman curhat dikala sedih melanda.
Tak pernah ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkannya. Mahasiswi lulusan Pendidikan Seni Rupa yang kini menjadi salah satu bagian dari keluarga besar kami. Dia bekerja di bagian desain dan video 3 dimensi. Terkadang menjadi asisten sutradara ketika dibutuhkan. Mulai dari kru sampai pemain mengenalnya. Dengan cepat dia bisa beradaptasi di lokasi.
Ide-ide baru yang ia berikan membuat sutradara menyerahkan penuh masalah pemain kepadanya. Hal tersebut yang membuat kami dekat. Dengan membawa sebuah misi yaitu memajukan sinetron Indonesia, dia bekerja keras untuk menggali ide kami. Baik kru maupun pemain. Wanita hebat yang selalu tersenyum.
"Mbak Mayang, ini hapenya ketinggalan!"
Teriak gue ketika tanpa sengaja melihat mbak Mayang melintas di depan ruang kostum.
"Alhamdulilah, gue kira ilang!" Jawabnya sambil menghampiri gue dengan wajah kusut.
Tanpa basa-basi dan tak lupa ucapan terimakasih, mbak Mayang bergegas mengambil ponselnya sambil ngacir entah kemana. Hal itu sontak bikin gue nyengir. 
Walaupun dia pintar, ada satu hal yang bikin dia selalu dikerjain sama anak-anak. Kebiasaan lupanya nggak pernah hilang. Kadang hape, kunci, kaca mata atau benda-benda aneh yang selalu dibawa ke lokasi syuting. Dan yang bikin kita nggak habis pikir adalah semua barang-barangnya punya nama yang sama. Yaitu Bada, entah diambil dari mana itu nama. Yang jelas mbak Mayang selalu bilang semua itu dilakukan agar dia nggak perlu susah-susah untuk mengingat.
Satu bulan setelah kedatangannya. Belum semua nama kami yang dia ingat. Kadang malah kebalik-balik. Kalau nggak, ya ngasal manggil nama orang seenak jidatnya. Tapi gue pribadi sangat senang dengan mbak Mayang. Dia itu cewek imajinatif yang dewasa banget. Tempat curhat gue kalau lagi galau sama Dodo ataupun pacar gue yang sekarang udah jadi mantan. Tepatnya kemarin malam gue udah mutusin dia.
Yah, walaupun tadi pagi gue nggak begitu puas dengan jawabannya atas masalah yang habis menimpa gue. Tapi gue selalu yakin kalau dia punya alasan untuk hal tersebut. Ditambah lagi walpaper ponselnya yang menandakan kalau dia lagi punya masalah.
Huh, gue jadi ngerasa bersalah karena kemarin ngebebani dia dengan curhatan gue.
"Maaf ya, mbak. Lain kali Tita bakal dengerin semua keluh kesahnya mbak. Janji!" Perkataan itu gue ucapkan dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar