"Coba, ulangi sekali lagi!"
Kataku pada gadis belia ini.
"Gue nggak bisa mbak!" Jawabnya cemas. Dahinya berkerut melipat-lipat. Keringatnya bercucuran seperti air keran.
"Bisa nduk, bisa. Kamu pasti bisa!"
Aku mulai meremas tangannya memberi semangat. Dia mengangguk ragu, lalu mengulang kata-kata yang kuperintahkan.
"Sa, saya suka kamu. Ta, ta, ta...."
Ah, dia menyerah di tengah jalan. Aku tidak tahu jika satu kalimat ini bisa membuat seorang wanita kalang kabut.
Aku menggenggam tangannya kembali sambil menyalurkan energi positif pada dirinya.
"Mbak mau tanya seklali lagi sama Tita. Tita sayang nggak sama Dodo?"
Tita mengangguk pelan tapi pasti.
"Tita mau kan liat Dodo bahagia dimasa yang akan datang?"
Gadis berumur 17 tahun ini mulai mengangguk ragu. Alis kananannya terangkat sedikit, tanda tak paham.
"Mbak percaya Tita udah gede. Tita bisa diajak berpikir serius. Cuma Tita yang akan didengar Dodo. Sisanya biar mbak yang urus."
"Baik mbak, gue coba lagi!"
Kini dengan mantap dia mengulang kata-kataku.
"Saya suka kamu. Ta, tapi ka, kamu harus se, se, sekolah!"
Setelah berulang kali mengulang beberapa kosa kata, akhirnya Tita menyelesaikan kalimat tersebut.
Sambil ngos-ngosan, Tita tersenyum simpul. Aku memeluknya dan mengucapkan terimakasih.
Aku tak habis pikir dengan anak jaman sekarang. Bisa-bisanya mereka mengambil keputusan sehebat itu. Pelajaran matematika, olahraga dan segala yang berbau formal aku tidak menyukainya. Bahkan ketika sekolah aku juga sering bolos. Semua anak sekolah melakukannya.
Seorang anak yang akan memulai masa belianya malah memutuskan untuk berhenti sekolah demi mengejar cita-citanya. Apakah dia tidak pernah berpikir masih akan ada masa depan yang menantinya.
"Argh! Pekerjaan ini terlalu berat untukku ya Tuhan. Aku juga gadis muda, usiaku baru 21 tahun. Apa bedanya aku dengan mereka? Kami hanya berbeda 4 tahun saja."
Percuma mengeluh sendiri seperti ini. Kukira Tuhan sedang tersenyum melihatku.
Aku menutup mataku sambil merengek pada diriku sendiri.
Semua berawal dari malam ini. Tepat seperempat jam sebelum aku berbicara dengan Tita. Ruang kostum yang biasanya ramai dengan senda gurau dan candaan nakal, tiba-tiba senyap begitu saja. Manusia yang berlalu-lalang dengan sibuknya kini hanya mematung di satu tempat. Diam membeku bagai patung lilin. Tak ada satupun yang berani berbicara ketika semua barang di ruangan tersebut berserakan di lantai. Seorang pria muda terengah-engah dipojokan dinding. Tangannya masih meremas kuat. Alisnya hampir berdempetan begitu saja. Dia amat marah, matanya memerah.
Kembali diulangnya sebuah kalimat terkutuk itu.
"Gue udah bilang nggak mau! Apa kalian semua nggak punya telinga? Elu tante gue, tapi lu nggak ngehargai keputusan gue. Manager macam apa lu!"
"Praaang!"
Kembali ada barang yang melayang.
"Tante menghargai kamu, Do. Ini semua untuk masa depan kamu juga!"
Tante Astri selaku manager Dodo kembali menjelaskan dengan peluh di sudut mata.
Sutradara dan pemain yang usianya lebih senior tak mampu berbuat apa-apa. Beberapa pemain yang merupakan teman dekatnya hanya berjaga sambil mengambil kuda-kuda. Takut Dodo kembali mengamuk dengan lebih dasyat.
Tita memeluk Tante Astri sambil menangis. Peluhnya tak terhenti walau berulang kali diusapnya. Agnes yang sesama pemain dan sahabat Tita di lokasi syuting juga menghampiri Tante Astri. Memeluk erat Tante Astri dan sahabatnya tersebut.
Pertahanan Dodo sedikit melemah, dia tak mengepalkan tangannya lagi. Mungkin takut Tita kembali menangis. Dodo mencintai gadis mungil itu. Sepadat apapun jadwalnya, dia tetap menyempatkan waktu untuk gadis pujaannya tersebut. Bahkan akting mereka dilayar kaca sebagai sepasang kekasih begitu menggoda penonton. Terlihat natural untuk seusia mereka. Kesetiaan pasangan belia yang membuatku cemburu.
Lebih dari setengah jam kami mematung seperti ini. Aku yang duduk diantara Dodo dan Tante Astri mulai bosan melihat adegan nyata yang mereka mainkan.
Aku berpikir kenapa sutradara tidak segera berteriak "cut" pada adegan melelahkan ini. Pemeran utama sudah mulai tak terkendali, tampaknya dia lupa dengan dialog selanjutnya.
Tanpa basa-basi aku bangkit dari kursi malas itu. Membalikkan badan menuju pintu untuk meregangkan otot-otot sebentar. Belum ada satu langkah, Tante Astri sudah berteriak lemah padaku.
"Mau kemana kamu? Bukannya kamu udah janji mau bantu ngebujuk Dodo biar mau sekolah lagi!"
Dari apa yang kulihat, sepertinya Tante Astri menganggapku sebagai penghianat. Seakan-akan jika aku melangkah sekali lagi, aku terlihat bagai manusia paling kejam sedunia.
"Aku pasti bantu kok, Tan. Tapi nggak sekarang. Tante tahu kan apa yang baru aja dia lakuin!" Kataku sambil mengarahkan telunjuk kearah Dodo.
"Kalau sedikit aja aku ngomong, bisa-bisa piring disebelahnya sekarang udah melayang sampai mukaku!"
"Aku cuma mau ngomong sama Dodo, bukan tubuh Dodo yang lagi dimasukin setan kayak gini!"
Dengan sedikit gertakan aku meninggalkan ruangan tersebut.
Tak lama kemudian beberapa kru dan pemain mengikutiku keluar. Sisa segelintir orang di dalam ruangan. Tita dan Agnes membopong Tante Astri keluar ruangan. Mereka masih dalam keadaan gemetar.
Satu teriakan terakhir dari Dodo menutup malam kelam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar