Sabtu, 28 Juni 2014

Pacar Tita Datang

Ruang kostum kembali senyap petang ini. Bukan karena Dodo yang mengamuk lagi, melainkan kedatangan seorang pria jangkung di lokasi. Dari gelagatnya bisa kupastikan dia bukan kru ataupun pemain baru. Tapi wajahnya seperti tak asing bagiku. Yang jelas dia juga bukan tamuku.

Pertanyaan besar saat ini kutujukan kepada pria asing yang berdiri diantara Tita dan Dodo tersebut. Matanya merah merekah, salah satu tangannya terkepal kuat serta pandangannya yang tajam tertuju pada Dodo. Namun hal ganjil juga kutemukan pada Tita. Kedua tangan gadis mungil itu meremas salah satu bahu si pria misterius. Wajah manisnya terlihat pucat dan sepasang mata bola pingpongnya nampak nanar.
Tidak ada kru disana. Pemain yang lain juga belum datang. Seolah patung mereka diam memandangku.

"Apa?" Tanyaku bingung.
Seolah tak ada yang sanggup memberiku jawaban, mereka kembali diam dan mematung. Membuatku kesal dan tak mengerti. Namun yang bisa aku cerna adalah jika aku terlambat datang beberapa detik saja, mungkin akan ada pertumpahan darah di ruangan istimewa ini.
Tak lama kemudian Tita memutuskan keluar dengan wajah sembab yang kesal. Melewatiku begitu saja tanpa sepatah katapun. Dengan cepat pria misterius itu menyusul Tita dari belakang. Meninggalkanku berdua saja dengan Dodo yang berteriak kesal. Menghempaskan tubuhnya kekursi lipat super empuk. Hah, semakin tak mengerti saja aku dengan keadaan ini.

"Temennya Tita ya, Do?" Tanyaku pada Dodo sambil duduk disebelahnya. Merasakan juga kursi empuk milik Tita.
"Pacarnya mbak" jawab Dodo kesal.
Loh? Pacar? Pacar yang katanya ngegantungin Tita gara-gara cemburu buta sama Dodo itu. Pantesan kayak pernah lihat. Tapi apa yang pria itu inginkan dari Tita sekarang? Balikan? Menjalin cinta yang tertunda?
Dodo masih diam sambil merengut. Idola baru yang kini digandrungi remaja putri Indonesia ini tengah dirundung api cemburu. Dahinya terlipat bertekuk-tekuk. Tak ada solusi yang bisa kuberikan kecuali menepuk punggungnya.
Rasa penasaranku terhadap kedatangan pria itu mulai meluap. Kutinggalkan Dodo sejenak untuk mengetahui apa yang dibicarakan Tita dan pacarnya tersebut.
"Mau nguping lo, mbak?" Belum jauh beranjak, Dodo sudah curiga padaku. Bermodal senyum simpul, kubalas pertanyaan siriknya tersebut.

Tak jauh dari lokasi syuting, dua sejoli sedang berbicara serius. Terdengar isak tangis yang menyelimuti pembicaraan mereka. Sekarang giliranku yang mematung tanpa berbuat apa-apa. Tak sepatah katapun yang bisa kulontarkan.
Walaupun kesal dengan pria yang tak bisa mempercayai kekasihnya. Namun hari ini mereka sedang berbicara dengan hati. Mengumpulkan segenap kekuatan untuk merekatkan kepingan cinta yang berserakan. kali ini aku kembali dibuat cemburu oleh remaja yang sedang mempertahankan cintanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar