Jumat, 20 Juni 2014

Sepertinya Home Schooling juga Bagus

Tepat 15 menit setelah pembicaraan panjang anatara aku dan Tita. Serta usainya rengekanku pada Tuhan, dengan malas kakiku melangkah menuju ruang kostum kembali. Tak terdengar teriakan membabi buta serta suara gesekan benda-benda yang saling menabrak.
Benar saja, ruang kostum kini bagai gedung tua yang tak berpenghuni. Tak ada satupun manusia melewati ruangan tersebut. Kalaupun ada hanya beberapa gelintir yang melintas dengan acuhnya. Beda halnya dengan gadis berambut hitam sebahu ini. Dengan perawakannya yang mungil dia mengintip masuk dari jendela. Sepertinya masih ada orang di dalam. Kini aku berada tepat di samping gadis itu, tubuhku mengikuti setiap gerak-geriknya. Hingga akhirnya dia sadar, aku berada didekatnya.
"Dodo masih di dalam ya?" Tanyaku lirih.
Tita hanya mengangguk pasrah.
"Udah sekarang kamu masuk aja. Berikan pelukan terhangat kamu tanpa berkomentar sedikitpun. Itu yang dia perlukan saat ini"
Sambil memegang pundak Tita, kalimat tersebut kuucapkan dengan senyum merekahku.
Tita menyambutnya dengan baik. Dengan sekali anggukan kepala yang mantap, dia melesat masuk menemuo Dodo.
Tentu saja mataku masih awas di balik jendela. Berharap akan ada adegan romantis yang membuatku kembali iri.

Tita prov.
Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan keringat. Peluh itu terus mengalir diantara bulu mata lentiknya. Kelopaknya lebam, tubuhnya menelungkap tak berdaya di pojok ruangan.
Kukalungkan kedua tanganku diantara lehernya. Jemariku semakin rekat bersatu. Kuhirup seluruh bau di tubuhnya.
Hm, bau matahari dari seorang lelaki. Bau yang membuatku terpikat padanya. Bau yang kurindukan beberapa hari ini. Akhirnya aku menghirupnya kembali.
Perlahan bahuku terasa basah. Dia kembali menangis. Pria idaman para gadis ABG ini, kini membalas pelukanku. Mendekapku erat tanpa sekalipun melepaskannya. Kupikir dia juga rindu padaku.
Dipojokan ruangan bersejarah bagi kami ini, akhirnya Tuhan membiarkanku untuk kembali memeluknya dengan erat lagi.
Tanpa sepatah kata, hanya linangan air mata yang tak terhenti dari kami.
Tita's prov end.

20 menit berlalu begitu saja. Tanpa adegan tambahan, mereka hanya berpelukan. Macam kawan lama yang tak pernah bertemu, atau kekasih yang sudah lama dipisahkan. Benar saja, hampir 2 minggu mereka tak bertemu. Sudah rindu berat rupanya.
Tita mengikuti perintahku, dia hanya diam. Yang paling terdengar di telingaku adalah sesenggukan dari dua sejoli itu.
Begitu romantisnya membuatku semakin cemburu.
Beberapa meter dari ruang kostum terlihat Tante Astri yang sedari tadi mondar-mandir sambil sesekali mengusap air yang mengalir dipipinya. Kudekati Tante Astri seraya meninggal pasangan muda tersebut.
"Barusan Dodo ngamuk lagi. Uni harus ambil tindakan, masukkan saja dia kepesantren atau Home Schooling. 
Satu tahun saja, agar masyarakt tidak menganggapnya liar. Dengan begitu nama baik uni akan kembali, merka tidak akan berpikir uni acuh pada Dodo lagi!"
Dari cara bicaranya, sepertinya Tante Astri menelepon ibu Dodo. Wanita single parents itu pasti kewalahan dengan sikap anak bungsunya. Maklum saja bila orang lain berpikir beliau tak merawat anaknya dengan baik. Mana ada orang tua yang dengan suka rela membiarkan anak lelakinya putus sekolah hanya demi mengejar ketenaran sesaat.
"Aku sudah bicara baik-baik pada Dodo, uni. Tapi dia tetap keras kepala, semua barang-barang dibanting seenak jidatnya. Dengan uni saja dia berani, apalagi denganku yang hanya tantenya."
Tante Astri menjawab ponselnya kembali dengan nada yang lebih tinggi. Dia sudah kehilangan akal untuk membujuk keponakannya tersebut.

Kumandang adzan Subuh samar-samar terdengar. Tak ada satupu  mata yang terpejam pagi ini. Lokasi pengambilan gambar mulai padat dengan aktivitas kru dan sutradara yang mulai menyiapkan peralatan bertempurnya.
Para pemain yang akhirnya menginap hanya membasuh wajah dengan air agar nampak segar. Dodo dan Tita masih di tempat semula, Tante Astri tetap berkicau dengan ponselnya. Dan aku memilih Mushola disamping lokasi untuk Shalat dan istirahat sejenak.





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar