Minggu, 15 Juni 2014

Nonton Sinetron Berbuah Tulisan Angan

2014 ini kita harus memberikan penghargaan tertinggi untuk semua ibu di Indonesia.
Lah, emangnya kenapa?
Karena mereka telah berhasil melahirkan remaja-remaja tampan yang sekarang bisa kita nikmatin di layar televisi.


Well, udah jadi rahasia umum kalau aktor-aktor muda sekarang ganteng-ganteng. Untuk wanita yang sekarang berusia 20an kayak aku pasti nyesel banget. Kenapa dilahirinnya nggak 4 tahun lebih lambat aja.
Apalagi sinetron Indonesia yang notabene diperankan oleh pemeran yang selalu sama alias cuma ganti judul sekarang uda mendingan. Para sineas udah berpikir lebih maju untuk mengganti cara pemasarannya. Yah, walaupun kadang masalah yang ditampilkan sama. Paling enggak yang nonton nggak bosen lihat wajah yang sama tiap hari, tiap jam bahkan tiap saluran.
Hal ini juga membuat para ibu muda berjuang dengan tekun agar melahirkan anak sempurna seperti yang ada di layar kaca. Yah, walaupun kita nggak tahu aslinya kayak gimana. Tapi mereka tampil profesional di depan kita.
Sebagai salah satu pekerja seni bagian rupa dan desain, aku jadi tertarik untuk menonton sinetron.
Hobiku dibidang film juga jadi terasah. Mulai dari sok jadi komentator handal yang pedes sampai jadi penulis profesional yang bakal punya karya baru yang cetar.
Dan yang pasti itu semua bikin film-film pendek yang aku dan kelompokku bikin jadi punya cerita yang berat. Terlalu banyak pemikiran yang sebenarnya nggak penting dan perselisihan yang sama nggak pentingnya.
Tapi dari semua itu yang meningkat adalah tulisanku. Tulisan pendek yang pada akhirnya buat aku mengambil keputusan untuk punya blog baru yang berisi tentang pemikiran seorang wanita imajiner yang menginjak usia 22 tahun.
Pengennya sih blog ini bisa jadi tempat haha..hihi dan nangis-nangis ketika aku sedang hidup dalam dunia imajinasiku.

Baiklah kita mulai saja...
Benang merah dari semua ini berawal dari bulan lalu yang secara nggak sengaja aku ngeliat sinetron baru di salah satu stasiun tv. Dan alhasil karena salah satu pemainnya ganteng, muda, berenerjik dan muslim sekali jadinya buat aku nonton tuh sinetron. Alurnya ngena banget. Ngebawa kita sampai alam mimpi yang sebenanya kalau keterusan nggak baik buat kesehatan. Pasangan muda yang secara profeaional beradu akting dengan ciamiknya. Alhasil semua remaja Indonesia termasuk adekku yang baru berumur 12 tahun jadi ikut-ikutan gila.
Untuk aku yang udah bisa mikir aja, semua ini berasa kayak narkoba. Nempel muluk dan bikin ngefly aja. Nggak kebayang gimana adekku ya?

Dan buah dari itu semua adalah tulisan singkat yang ingin kuhidupkan pada saatnya nanti. Tulisan yang aku tulis bersamaan dengan cerita kehidupanku dari awal terbentuknya blog ini. Tentunya semua pada suatu hari nanti akan kusenyawakan dengan sebuah film yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Ini duniamu,
Dunia yang kau buat dengan hasil kerja kerasmu sendiri.
Bukan hanya untung secara materi tapi juga ketenaran berlebih.
Aku masih ingin membayangkan, ketika kita bertemu dengan cara yang berbeda.
Kau yang hanya orang biasa dan berjalan-jalan untuk melewati hari liburmu.
Kau yang sangat senggang menghabiskan waktumu untuk berlibur ke kotaku. Lalu tanpa sengaja kita berpapasan dikeramaian jalan yang sering disinggahi pelancong.
Menghabiskan malam dengan mencurahkan isi hatimu padaku.
Bicara tentang impian, cita-cita dan cintamu. Dan aku menyambutnya dengan baik. Aku juga menceritakan hal yang sama denganmu.
Pada akhirnya setelah beberapa tahun tidak bertemu, kita menjadi pribadi yang berbeda. Lebih semangat dengan pancaran positif.
Bertemu di jantung ibukota dan saling melepas rindu.
Menceritakan hal baik tentang pasangan hidut kita berdua. Dengan semangatnya kau bercerita tentang impianmu yang berhasil kau gapai. Juga seorang wanita seprofesimu yang tidak sengaja dipertemukan Tuhan. Dan secara tidak langsung kau telah menjadi dirimu yang sekarang, dengan pembeda yaitu kau mengenalku.
Lalu kita tetap menjadi dua manusia yang berteman baik tanpa saling melupakan.
Walau kau diterangi dengan gemerlapnya bintang ibu kota dan aku dibumbing untuk menerangi pelosok nusantara yang berpuluh tahun tertutup mendung.
Namun kita akan saling tetap menyapa dan bercerita.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar