Begini, dan selalu saja begini. Mengulang semua tugas selama 20 jam setiap harinya. Aku bosan, benar-benar bosan. Jangan kira bekerja dibalik layar itu menyenangkan. Bisa bertemu sutradara profesional serta aktor dan aktris terkenal. Rasa bangga itu hanya awalnya saja. Setelah itu, ya biasa saja. Mereka juga manusia biasa. Tidak pernah luput dari dosa.
Tapi, tak bisa kupingkiri. Mereka juga obat pelipur lara. Di tengah padatnya jadwal syuting. Ada saja tinglah konyol yang dipertontonkan. Apalagi yang masih remaja, sangat atraktif dan sulit ditebak. Sebentar, bisa tersenyum lebar. Setelah itu langsung diam seribu bahasa. Yah, bahasa kerennya galau. Penyakit aneh yang akhir-akhir ini menggandrungiku. Begitu yang di katakan Dodo dan Tita. Padahal mereka sendiri lupa, bagaimana dengan kisah kasih asmaranya.
"Masih galau aja nih, Mbak?"
Dodo yang sedari tadi berkutat dengan ponsel canggihnya, ternyata memperhatikanku. Mengamati tiap detik mimik wajahku yang selalu berubah.
Tanpa kusadari, tepat dibelakangku Tita sudah asik melihat lekat-lekat sebuah gambar di layar ponselku. Hal yang tentunya membuatku galau.
"Oh. Gara-gara ini, Lo sampai galau nggk jelas!" Kata Tita sambil menyambar ponsel itu dari genggamanku.
Entah sejak kapan Dodo sudah berada tepat di sebelah Tita. Menertawaiku secara perlahan. Setelah puas tertawa, mereka mengembalikan ponselku sambil mengejekku dengan petuah aneh.
"Makanya, kalau mau cepet lulus. Ya, jangan mikirin cowok muluk! Kalahkan sama Agnes yang sekarang udah dapet gelar sarjana!"
"Aku nggak galau kok. Cma lagi ngebayangin aja,seandainya aku pakai toga pasti juga keren!" Timpalku untuk menanggapi nasehat sok tua Dodo.
Mendengar jawaban yang kusadari sangat janggal itu, dua sejoli yang hubungannya tidak jelas ini hanya mengangkat satu alisnya dan pergi meninggalkanku sambil menahan senyum.
Ya, mereka benar. Aku iri dengan Agnes. Usia kami sama. Kesibukan kami sama. Terkadang dia lebih sibuk dariku. Tapi sekarang, sebuah toga lengkap dengan selempang dan buket bunga menghiasi sebuah foto yang di unggahnya di jejaring sosial. Wanita berpipi tembem ini sukses meraih gelar sarjana. Sedangakan aku, masih diam di tempat dengan berjuta petuah dan omong kosongku. Menyedihkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar