Kalau disuruh nyebutin satu kata tentang mbak Mayang, gue bakal bilang "menarik".
Dilihat dari segi mana aja, dia itu menarik. Mulai dari tingkah anehnya sampai cara dia mengungkapkan banyak hal. Aneh dan menarik. Nggak jauh beda lah kata-kata itu buat gue.
Sikapnya yang pemberani dan masa bodoh bikin semua kru dan pemain ngehargai dia. Semangatnya yang selalu berkobar, menjadikan cambuk bagi kami untuk terus lebih maju. Yah, bisa dibilang. Gara-gara cewek bertahi lalat di bawah mata ini, kami semua jadi kerja lebih profesional. Nggak ada tu yang namanya ngaret lagi.
Dia juga tempat curhat gue, apalagi kalau gue lagi galau sama Tita. Cewek mungil yang hampir aja bikin gue membatalkan niat untuk nggak pacaran. Gue akui, dia bikin gue semangat terus. Tapi sampai sekarang, gue belum nembak dia. Gue pengen jadiin dia yang pertama dan terakhir. Yah, kalau dia mau nunggu sampai saat itu tiba. Gue akan sangat senang sekali.
"Do, abis ini take ya!"
Suara seorang kru membangunkan gue dari lamunan singkat.
"Oke, bang!"
Hari ini adegan gue sama Tita. Mesti mesra-mesra lagi. Padahal kemarin gue sama dia habis ada masalah. Kalau nggak gara-gara cowoknya yang entah datang dari mana. Pasti hari ini gue udah nyanyi-nyanyi sama Tita.
"Seprofesional apapun seorang aktor, kalau hati sudah ikut campur. Yang lain hanya bisa diam tanpa kata."
Gitu deh katanya mbak Mayang.
Dia tu bener-bener sok tahu, tapi gue suka nasihat-nasihat yang diberikan. Nggak maksa dan terkesan universal. Hehe.
Tiba-tiba sosok mbak Mayang terlihat dari kaca spion mobil. Dia nampak tergesa-gesa menuju pojokan gudang. Dilihat dari cara jalannya yang udah kayak ketinggalan kereta, kayaknya ada hal gawat yang terjadi.
Tanpa bermaksud nguping, gue beranikan diri untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aja dengan kedatangan gue, dia bisa merasa lebih baik. Hitung-hitung balas budi karena sering dibantu.
"Mulai sekarang terserah kamu aja ya, mas. Kalau emang pekerjaan kamu yang di ujung Indonesia itu sangat penting. Ya, kamu nggak usah pulang aja. Nggak usah nemuin aku sekalian."
Dengan lirih namun penuh emosi, mbak Mayang mengeluarkan banyak kalimat yang ditujukan pada penelepon disebrang sana. Entah dimana, tapi sepertinya jauh.
"Kamu yang bikin aku tertahan di Jakarta. Kota yang nggak ingin aku tinggali. Demi kamu, aku rela tinggal dan bekerja disini. Tapi apa, kamunya malah asik sama kerjaan kamu. Mas Reza aja tetap bisa pulang ke Jakarta walaupun sibuk. Masak sebentar aja kamu nggak bisa!"
Percakapan semakin hangat ketika mbak Mayang mengusap air mata di kedua pipinya. Dia menangis, tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya adegan ini gue lihat. Apakah masalahnya sepelik itu? Sampai-sampai mbak Mayang nangis. Atau sebenarnya ini biasa saja. Mungkin gue aja yang nggak pernah liat dia nangis. Di depan semua orang dia selalu senyum, sampai gue lupa kalau dia manusia biasa.
"Maaf ya, mbak. Gue nggak tahu kalau lu bisa sesedih itu."
Mungkin benar kata lu, "Gue masih remaja yang berumur 18 tahun. Butuh 2 tahun lagi untuk benar-benar mengerti segalanya. Untuk benar-benar menyesal karena tak bisa kembali ke masa sebelumnya."
Sedih itu kini melanda diri gue. Gue berbalik untuk meninggalkan mbak Mayang. Gue bukan dia, yang bisa langsung mengambil tindakan.
Anggap saja, hari ini gue ngasih lu kebebasan untuk menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar