Selasa, 08 Juli 2014

30 menit ini dinamakan Luka!

Tiga puluh menit sesudah kau pergi.
Kamar mandi biru laut yang tak begitu besar namun mampu menenggelamkan wajahku dalam-dalam. Membasahi rambut hitamku yang mulai panjang.
Tetesan di tiap ujung mataku bercampur dengan air yang menggenang.
Andai kau tahu. Kala itu hatiku hancur berantakan. Serpihannya terlalu kecil, hingga tak mampu kurekatkan lagi.

Tiga puluh menit setelah kau pergi bersamanya.
Jalanan siang itu nampak lengah. Dari kaca spion motornya, kau melirikku yang berhenti sekitar tiga meter di belakangmu. Ada rasa gusar yang terlihat di balik bola mata indah itu. Dia melihatmu dengan ekspresi yang luar biasa. Menolehku sebentar. Terlihat rasa ragunya padamu berkembang. Kau membuatnya marah padaku.

Tiga puluh menit sebelum aku mulai mengingatmu.
Beberapa hari ini terlihat hambar bagiku. Tanpa kegiatan yang pasti. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali berpikir. Berimajinasi dengan riang tanpa bisa kutahab. Disela-selanya, terselip ingatan tentangmu. Aku berpikir kita akan bertemu di masa depan. Dengan kau yang menggunakan setelan jas hitam dan kemeja berkerah yang kancing paling atasnya terbuka. Kita terlibat dalam sebuah masalah besar. Kau membuatku marah dan menangis tersedu-sedu. Kita juga melibatkan banyak orang yang dikenal Indonesia. Yang akhir-akhir ini berlalu-lalang di layar televisi. Lalu kau, tak ingin melihatku. Mengacuhkanku begitu saja. Kau beralasan tak ingin membuatku menangis. Sementara aku menggunakan kelemahanmu itu untuk menang.
Kau mengalah, aku tersenyum. Kita semua tersenyum. Sutradara terbahak. Dan sang aktor serta managernya hanya diam seribu kata.
Disana aku ingin mengingatkanmu. Bahwa cukup sekali kau membuatku bersedih. Meninggalkanku dengan sejuta harapan yang hampa.

Tiga puluh menit berlalu.
Sungguh. Aku ingin melupakanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar