Minggu pertama di bulan Puasa. Semua kru dan pemain masih menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Tak terkecuali aku.
Kami mempunyai beberapa acara tak terduga akhir-akhir ini. Mulai dari menyambut pemain baru hingga perpisahan dengan beberapa pemain lama.
Khusus untuk pemain lama yang sudah meyelesaikan semua adegannya, pihak produksi memberikan kenang-kenangan dan penghargaan atas partisipasinya selama ini. Karena acara ini diadakan secara spontan, membuat kami sedikit kewalahan untuk mempersiapkannya. Ditambah lagi tidak ada orang yang bisa mengerjakannya. Alhasil karena aku merupakan tim bagian desain, pihak produksi menyuruhku untuk meng-handle semuanya. Mulai dari membuat acara kecil-kecilan, mendesain spanduk ucapan terima kasih, sampai lenang-kenangan yang akan diberikan.
Belum lagi beberapa tamu undangan dan wartawan.
Membuat tenagaku yang sedang berpuasa ini terkuras habis. Untungnya para pemain yang sedang brake syuting dan kru yang menganggur, dengan senang hati membantuku.
Dodo, Tian dan Mario yang baru saja menyelesaikan adegan mereka, dengan sigap langsung membawa kardus-kardus berisi kenang-kenangan menuju lokasi acara. Sementara Agnes yang sudah menganggur dari tadi hanya memberiku semangat dan berteriak-teriak.
"Semangat ya, Mbak! Aku bantu dengan doa!" Ucap Agnes yang sedari tadi duduk hanya di kursi malasnya.
"Yaelah. Bantuin kek, malah duduk-duduk aja dari tadi!"
"Loh, ini aku bantuin kok. Tapi pake doa aja ya. He.. he.. he...." jawabnya sambil kembali asik dengan ponsel pintarnya.
"Ini mau ditaruh mana, Mbak?"
Tanya Tita yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kedua tangannya dengan cepat sudah membawa dua buah kardus yang ada ditanganku.
"Bawa kedepan aja, nanti biar disusun anak-anak cowok."
Tita yang tak begitu mendengarkan perintahku, sudah berjalan gontai membawa barang bawaannya. Membuatku tersenyum nakal. Dengan tubuh semungil itu, Tita membawa dua buah kardus dan gulungan spanduk.
Karena takut Tita menjatuhkan barang-barang tersebut. Aku mengikutinya dari belakang. Menjaganya jika tiba-tiba dia tumbang.
Belum hilang kekhawatiranku, ternyata hal itu terjadi. Kaki kanan Tita menyandung sebuah kardus kecil di depan pintu. Tubuhnya siap melayang dan jatuh kedepan. Aku dan Tita secara refleks berteriak bersamaan.
Benerapa pasang mata yang mendengar teriakan bombastis kami langsung sigap untuk menangkap Tita. Kupejamkan kedua mataku agar tak melihat adegan berbahaya tersebut. Namun beberapa detik kemudian, teriakan Tita yang mendominasi terhenti begitu saja.
Kubuka sepasang bola mataku secara perlahan. Dan menemukan tubuh Tuta sudah berada dalam dekapan Dodo. Pantas saja gadis itu berhenti berteriak. Ternyata pangerannya yang berhasil menangkapnya. Adegan tersebuat membuat beberapa orang yang hendak menolong Tita bersorak-sorai melihat adegan tersebut. Entah dari mana datang si pangeran Dodo, tapi dia selalu melakukan hal tidak terduga ketika Tita mengalami kesusahan. Benar-benar membuatku cemburu. Daripada aku semakin panas, kubiarkan mereka berdua berbica sebentar. Hitung-hitung memperbaiki hubungan mereka yang akhir-akhir ini sedikit canggung.
"Lu nggak papa?" Tanya Dodo cemas.
"Gu, gue nggak papa kok." Jawab Tuta sambil membenarkan rambutnya yang tidak berantakan.
"Lain kali hati-hati. Kalau Lu butuh bantuan, kan bisa panggil gue."
"Iya. Lain kali gue bakal lebih hati-hati. Abis, tadi gue liat Mbak Mayang kesusahan bawa barang sebanyak ini. Makanya gue bantu. Eh, ternyata gue sendiri yang kewalahan. He..he." jelas Tita sambil menunjuk barang-barang yang kini berserakan di lantai.
Setengah jam berlalu. Akhirnya barang terakhir sudah sampai di lokasi berlangsungnya acara.
Tita dan Dodo adalah pembawa barang terakhir tersebut. Padahal jaraknya tidak sampai lima meter, tapi mereka baru sampai tiga puluh menit kemudia.
Biasalah remaja jaman sekarang. Selalu menggunakan kesempatan disetiap waktu untuk berduaan. Tapi, aku hargai kerja keras mereka. Karena hanya mereka berdua yang membantuku sampai akhir.
Atas usaha tersebut, kubuatkan dua gelas es campur dingin untuk berbuka.
Di basecamp lantai dua, kami menghabiskan waktu dengan bernyanyi dan menyruput es buah buatanku. Sambil sesekali bercanda, aku melihat mereka berdua sudah kembali seperti biasa lagi. Tak ada kecanggungan yang mereka perlihatkan.
"Dodo, Tita. Makasih ya atas bantuan kalian hari ini." Kataku yang sempat menghentikan duet mereka sejenak.
"Iya, Mbak. Sama-sama. Lu juga selalu bantuin kita. Jadi nggak ada salahnya kalau kita gantian bantuin lu." Jawab Dodo yang di setujui Tita dengan sekali anggukan.
Malam ini, kuhabiskan waktuku bersama sepasang anak manusia yang belum berani menyatakan status hubungan mereka. Kulantunkan sebuah lagu penuh harap yang sebenarnya kutujukan untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar