Jakarta akhir-akhir ini sedang di rendam air. Hujan terus tanpa berjeda. Aku jadi rindu. Rindu Ayah dan Ibu. Sedang apa mereka sekarang?
Sebuah pesan masuk membangunkanku dari lamunan kerinduan yang singkat. Senyumku merekah ketika tahu Ibu yang mengirim sms. Dengan singkatan kata yang dibuat sendiri oleh ibu, aku mulai mengartikan satu persatu maksud dari pesan tersebut. Kalimat pertama menanyakan keadaanku. Pertanyaan standar yang selalu ditanyakan oleh orang-orang yang lama tak berjumpa. Kalimat kedua menunjukkan sebuah pesan agar aku tak lupa makan. Pada kalimat terakhir, ibu memberitahukan keadaan Jogja saat ini. Membuatku sedikit cemas dan ingin pulang. Ibu bilang bahwa udara Jogja sangat dingin. Seperti sedang di Kaliurang. Air kamar mandi selalu terasa seperti air kulkas. Dia juga merindukanku. Di akhir kalimat, wanita paruh baya yang tetap cantik ini memintaku untuk pulang beberapa hari saja.
Seandainya ibu tahu, aku juga ingin pulang. Ingin merasakan pelukan hangatmu lagi. Bermanja-manja sebentar sambil curhat tentang masa pacaran ibu dulu. Lalu kita tertidur dengan lelap.
Ibu, aku akan segera pulang. Meninggalkan kepenatan ibu kota yang semakin menjadi-jadi. Membersihkan seluruh gundaku yang berkepanjangan. Juga, melupakan sejenak tentang dia yang tak kunjung datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar