Jumat, 18 Juli 2014

Setidaknya, Beri Aku Kabar

Ada banyak hal yang selalu membuatku mencemaskan kita. Ya. Tentang kita.
Kita yang ku kira mempunyai hubungan lebih dari sekedar sahabat.
Kita yang mungkin duduk berdua di sebuah gedung bioskop layaknya pasangan lain.
Atau kita yang seharusnya berada di sebuah taman berhiaskan lampu malam, lalu menengadah ke atas sambil melihat indahnya purnama kala itu. Kau memetik gitarmu dan menyanyikan lagu romantis untuk menggodaku.
Iya. Itu yang dilakukan sepasang kekasih. Tak pernah berubah dari masa ke masa.
Lalu, bagaimana jika semua itu berbanding terbalik? Apakah kita harus mengutuki keadaan yang sudah digariskan ini?
Sepertinya, hanya aku yang akan berpikir begitu. Jangan pernah berpikir aku protektif kepadamu. Ini semua bentuk dari perhatianku untukmu.
Wanita itu memang seperti ini. Bukan takut kau akan di ambil yang lain, hanya takut jika kau lupa. Lupa bagaiman cara merindukanku.

Kamis, 17 Juli 2014

Kini Giliranku part. 1

Dodo sudah berada dalam puncak popularitasnya sekarang. Kurang dari satu tahun, namanya sudah dikenal luas. Bahkan sampai negara-negara tetangga. Aktingnya dengan Tita sebagai sepasang kekasih, membuat mereka dinobatkan menjadi pasangan terfavorit tahun 2014. Pujian dan cacian turut hadir meliputi kesehariannya. Dodo sudah kebal dengan hinaan orang. Semua hal yang tidak baik dianggapnya angin lalu. Benar-benar profesional dia sekarang.
Aku jadi teringat sebuah janji. Membawaku mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu. Ketika Dodo mengacak-acak ruang kostum. Membuat panik semua orang. Hal sepele menurutku, namun tidak bagi Dodo. Anak itu sudah kelewat senang dalam zona nyamannya. Sekarang waktunya dia keluar dari dunia itu. Tentu saja ini waktunya aku bertindak. Sebuah janji yang ku ikrarkan bersama dengan Ibu dan tante Dodo. Entah apa yang akan terjadi, aku akan tetap melaksanakannya. Dodo harus menamatkan sekolahnya. Bagaimanapun caranya, dia harus lulus dari bangku sekolah menengah atas. Sudah tidak jaman artis berpendidikan rendah. Harusnya, Dodo malu dengan semua itu.
Setelah selesai syuting edisi Ramadhan, para pemain yang telah menyelesaikan adegannya sudah bersiap-siap pulang. Yang tertinggal hanyalah Dodo dan Tita. Beberapa adegan mesra ala pasangan remaja Indonesia harus mereka lakukan.
Sutradara memberikan waktu istirahat 45 menit kepada mereka berdua. Aku dan Tita sudah mengatur tempat untuk perbincanganku dan Dodo. Tita adalah salah satu tim suksesku. Di dalam lubuk hatinya, dia selalu ingin Dodo berhasil. Apalagi dalam bidang pendidikan. Maka dari itu dengan senang hati Tita membantuku. Dan ruang kostum adalah tempat yang kami pilih. Aku tidak takut jika Dodo akan mengamuk ataupun melempariku dengan benda-benda yang ada disekelilingna. Yang penting aku sudah berusaha untuk membujuknya. Semoga berita ini membuat senang semua pihak. Terutama ibu dan tante Dodo.

Pesan Masuk

Jakarta akhir-akhir ini sedang di rendam air. Hujan terus tanpa berjeda. Aku jadi rindu. Rindu Ayah dan Ibu. Sedang apa mereka sekarang?
Sebuah pesan masuk membangunkanku dari lamunan kerinduan yang singkat. Senyumku merekah ketika tahu Ibu yang mengirim sms. Dengan singkatan kata yang dibuat sendiri oleh ibu, aku mulai mengartikan satu persatu maksud dari pesan tersebut. Kalimat pertama menanyakan keadaanku. Pertanyaan standar yang selalu ditanyakan oleh orang-orang yang lama tak berjumpa. Kalimat kedua menunjukkan sebuah pesan agar aku tak lupa makan. Pada kalimat terakhir, ibu memberitahukan keadaan Jogja saat ini. Membuatku sedikit cemas dan ingin pulang. Ibu bilang bahwa udara Jogja sangat dingin. Seperti sedang di Kaliurang. Air kamar mandi selalu terasa seperti air kulkas. Dia juga merindukanku. Di akhir kalimat, wanita paruh baya yang tetap cantik ini memintaku untuk pulang beberapa hari saja.
Seandainya ibu tahu, aku juga ingin pulang. Ingin merasakan pelukan hangatmu lagi. Bermanja-manja sebentar sambil curhat tentang masa pacaran ibu dulu. Lalu kita tertidur dengan lelap.
Ibu, aku akan segera pulang. Meninggalkan kepenatan ibu kota yang semakin menjadi-jadi. Membersihkan seluruh gundaku yang berkepanjangan. Juga, melupakan sejenak tentang dia yang tak kunjung datang.

Rabu, 16 Juli 2014

Hai, ini Aku!

Hai, ini aku.
Aku sebagai Bintang Mayang ataupun aku yang sesungguhnya, Shinta Saragih.
Kami tidak berbeda, satu jiwa dan raga. Hanya kisahnya saja yang tidak sama. Bintang Mayang adalah impianku. Mengisahkan diriku di masa depan. Sedangkan Shinta Saragih itu adalah diriku saat ini. Yang nyata dan apa adanya. Walaupun Mayang dan Shinta hidup di jaman yang berbeda. Namun, usia mereka sama. keinginan dan ambisi mereka tak berbeda sedikitpun.
Mayang memang sukses menjadi pemain di balik layar, begitu juga Shinta yang sukses menjadi pendidik seni rupa saat ini. Namun mereka tetap saja sama. Sama-sama belum lulus kuliah. Sama-sama  berharap menjadi pendengar yang baik, dan sama-sama merindukan prianya yang masih disimpan Tuhan.
Hihi, mereka tersenyum mendengarnya. Sebodoh itukah mereka?
Membuang waktu hanya untuk pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Ya, ini memang kita. Kita yang dengan sekuat tenaga akan selalu mengapresiasi sebuah seni. Apalagi, seni merangkai cinta.

Selasa, 15 Juli 2014

Sarjana Cantik dan Super Sibuk

Begini, dan selalu saja begini. Mengulang semua tugas selama 20 jam setiap harinya. Aku bosan, benar-benar bosan. Jangan kira bekerja dibalik layar itu menyenangkan. Bisa bertemu sutradara profesional serta aktor dan aktris terkenal. Rasa bangga itu hanya awalnya saja. Setelah itu, ya biasa saja. Mereka juga manusia biasa. Tidak pernah luput dari dosa.
Tapi, tak bisa kupingkiri. Mereka juga obat pelipur lara. Di tengah padatnya jadwal syuting. Ada saja tinglah konyol yang dipertontonkan. Apalagi yang masih remaja, sangat atraktif dan sulit ditebak. Sebentar, bisa tersenyum lebar. Setelah itu langsung diam seribu bahasa. Yah, bahasa kerennya galau. Penyakit aneh yang akhir-akhir ini menggandrungiku. Begitu yang di katakan Dodo dan Tita. Padahal mereka sendiri lupa, bagaimana dengan kisah kasih asmaranya.
"Masih galau aja nih, Mbak?"
Dodo yang sedari tadi berkutat dengan ponsel canggihnya, ternyata memperhatikanku. Mengamati tiap detik mimik wajahku yang selalu berubah.
Tanpa kusadari, tepat dibelakangku Tita sudah asik melihat lekat-lekat sebuah gambar di layar ponselku. Hal yang tentunya membuatku galau.
"Oh. Gara-gara ini, Lo sampai galau nggk jelas!" Kata Tita sambil menyambar ponsel itu dari genggamanku.
Entah sejak kapan Dodo sudah berada tepat di sebelah Tita. Menertawaiku secara perlahan. Setelah puas tertawa, mereka mengembalikan ponselku sambil mengejekku dengan petuah aneh.
"Makanya, kalau mau cepet lulus. Ya, jangan mikirin cowok muluk! Kalahkan sama Agnes yang sekarang udah dapet gelar sarjana!"
"Aku nggak galau kok. Cma lagi ngebayangin aja,seandainya aku pakai toga pasti juga keren!" Timpalku untuk menanggapi nasehat sok tua Dodo.
Mendengar jawaban yang kusadari sangat janggal itu, dua sejoli yang hubungannya tidak jelas ini hanya mengangkat satu alisnya dan pergi meninggalkanku sambil menahan senyum.
Ya, mereka benar. Aku iri dengan Agnes. Usia kami sama. Kesibukan kami sama. Terkadang dia lebih sibuk dariku. Tapi sekarang, sebuah toga lengkap dengan selempang dan buket bunga menghiasi sebuah foto yang di unggahnya di jejaring sosial. Wanita berpipi tembem ini sukses meraih gelar sarjana. Sedangakan aku, masih diam di tempat dengan berjuta petuah dan omong kosongku. Menyedihkan.

Selasa, 08 Juli 2014

30 menit ini dinamakan Luka!

Tiga puluh menit sesudah kau pergi.
Kamar mandi biru laut yang tak begitu besar namun mampu menenggelamkan wajahku dalam-dalam. Membasahi rambut hitamku yang mulai panjang.
Tetesan di tiap ujung mataku bercampur dengan air yang menggenang.
Andai kau tahu. Kala itu hatiku hancur berantakan. Serpihannya terlalu kecil, hingga tak mampu kurekatkan lagi.

Tiga puluh menit setelah kau pergi bersamanya.
Jalanan siang itu nampak lengah. Dari kaca spion motornya, kau melirikku yang berhenti sekitar tiga meter di belakangmu. Ada rasa gusar yang terlihat di balik bola mata indah itu. Dia melihatmu dengan ekspresi yang luar biasa. Menolehku sebentar. Terlihat rasa ragunya padamu berkembang. Kau membuatnya marah padaku.

Tiga puluh menit sebelum aku mulai mengingatmu.
Beberapa hari ini terlihat hambar bagiku. Tanpa kegiatan yang pasti. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali berpikir. Berimajinasi dengan riang tanpa bisa kutahab. Disela-selanya, terselip ingatan tentangmu. Aku berpikir kita akan bertemu di masa depan. Dengan kau yang menggunakan setelan jas hitam dan kemeja berkerah yang kancing paling atasnya terbuka. Kita terlibat dalam sebuah masalah besar. Kau membuatku marah dan menangis tersedu-sedu. Kita juga melibatkan banyak orang yang dikenal Indonesia. Yang akhir-akhir ini berlalu-lalang di layar televisi. Lalu kau, tak ingin melihatku. Mengacuhkanku begitu saja. Kau beralasan tak ingin membuatku menangis. Sementara aku menggunakan kelemahanmu itu untuk menang.
Kau mengalah, aku tersenyum. Kita semua tersenyum. Sutradara terbahak. Dan sang aktor serta managernya hanya diam seribu kata.
Disana aku ingin mengingatkanmu. Bahwa cukup sekali kau membuatku bersedih. Meninggalkanku dengan sejuta harapan yang hampa.

Tiga puluh menit berlalu.
Sungguh. Aku ingin melupakanmu.

Minggu, 06 Juli 2014

Terimakasih atas Bantuannya

Minggu pertama di bulan Puasa. Semua kru dan pemain masih menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Tak terkecuali aku.
Kami mempunyai beberapa acara tak terduga akhir-akhir ini. Mulai dari menyambut pemain baru hingga perpisahan dengan beberapa pemain lama.
Khusus untuk pemain lama yang sudah meyelesaikan semua adegannya, pihak produksi memberikan kenang-kenangan dan penghargaan atas partisipasinya selama ini. Karena acara ini diadakan secara spontan, membuat kami sedikit kewalahan untuk mempersiapkannya. Ditambah lagi tidak ada orang yang bisa mengerjakannya. Alhasil karena aku merupakan tim bagian desain, pihak produksi menyuruhku untuk meng-handle semuanya. Mulai dari membuat acara kecil-kecilan, mendesain spanduk ucapan terima kasih, sampai lenang-kenangan yang akan diberikan.
Belum lagi beberapa tamu undangan dan wartawan.
Membuat tenagaku yang sedang berpuasa ini terkuras habis. Untungnya para pemain yang sedang brake syuting dan kru yang menganggur, dengan senang hati membantuku.
Dodo, Tian dan Mario yang baru saja menyelesaikan adegan mereka, dengan sigap langsung membawa kardus-kardus berisi kenang-kenangan menuju lokasi acara. Sementara Agnes yang sudah menganggur dari tadi hanya memberiku semangat dan berteriak-teriak.
"Semangat ya, Mbak! Aku bantu dengan doa!" Ucap Agnes yang sedari tadi duduk hanya di kursi malasnya.
"Yaelah. Bantuin kek, malah duduk-duduk aja dari tadi!"
"Loh, ini aku bantuin kok. Tapi pake doa aja ya. He.. he.. he...." jawabnya sambil kembali asik dengan ponsel pintarnya.
"Ini mau ditaruh mana, Mbak?"
Tanya Tita yang tiba-tiba datang entah dari mana. Kedua tangannya dengan cepat sudah membawa dua buah kardus yang ada ditanganku.
"Bawa kedepan aja, nanti biar disusun anak-anak cowok."
Tita yang tak begitu mendengarkan perintahku, sudah berjalan gontai membawa barang bawaannya. Membuatku tersenyum nakal. Dengan tubuh semungil itu, Tita membawa dua buah kardus dan gulungan spanduk.
Karena takut Tita menjatuhkan barang-barang tersebut. Aku mengikutinya dari belakang. Menjaganya jika tiba-tiba dia tumbang.
Belum hilang kekhawatiranku, ternyata hal itu terjadi. Kaki kanan Tita menyandung sebuah kardus kecil di depan pintu. Tubuhnya siap melayang dan jatuh kedepan. Aku dan Tita secara refleks berteriak bersamaan.
Benerapa pasang mata yang mendengar teriakan bombastis kami langsung sigap untuk menangkap Tita. Kupejamkan kedua mataku agar tak melihat adegan berbahaya tersebut. Namun beberapa detik kemudian, teriakan Tita yang mendominasi terhenti begitu saja.
Kubuka sepasang bola mataku secara perlahan. Dan menemukan tubuh Tuta sudah berada dalam dekapan Dodo. Pantas saja gadis itu berhenti berteriak. Ternyata pangerannya yang berhasil menangkapnya. Adegan tersebuat membuat beberapa orang yang hendak menolong Tita bersorak-sorai melihat adegan tersebut. Entah dari mana datang si pangeran Dodo, tapi dia selalu melakukan hal tidak terduga ketika Tita mengalami kesusahan. Benar-benar membuatku cemburu. Daripada aku semakin panas, kubiarkan mereka berdua berbica sebentar. Hitung-hitung memperbaiki hubungan mereka yang akhir-akhir ini sedikit canggung.
"Lu nggak papa?" Tanya Dodo cemas.
"Gu, gue nggak papa kok." Jawab Tuta sambil membenarkan rambutnya yang tidak berantakan.
"Lain kali hati-hati. Kalau Lu butuh bantuan, kan bisa panggil gue."
"Iya. Lain kali gue bakal lebih hati-hati. Abis, tadi gue liat Mbak Mayang kesusahan bawa barang sebanyak ini. Makanya gue bantu. Eh, ternyata gue sendiri yang kewalahan. He..he." jelas Tita sambil menunjuk barang-barang yang kini berserakan di lantai.

Setengah jam berlalu. Akhirnya barang terakhir sudah sampai di lokasi berlangsungnya acara.
Tita dan Dodo adalah pembawa barang terakhir tersebut. Padahal jaraknya tidak sampai lima meter, tapi mereka baru sampai tiga puluh menit kemudia.
Biasalah remaja jaman sekarang. Selalu menggunakan kesempatan disetiap waktu untuk berduaan. Tapi, aku hargai kerja keras mereka. Karena hanya mereka berdua yang membantuku sampai akhir.
Atas usaha tersebut, kubuatkan dua gelas es campur dingin untuk berbuka.
Di basecamp lantai dua, kami menghabiskan waktu dengan bernyanyi dan menyruput es buah buatanku. Sambil sesekali bercanda, aku melihat mereka berdua sudah kembali seperti biasa lagi. Tak ada kecanggungan yang mereka perlihatkan.
"Dodo, Tita. Makasih ya atas bantuan kalian hari ini." Kataku yang sempat menghentikan duet mereka sejenak.
"Iya, Mbak. Sama-sama. Lu juga selalu bantuin kita. Jadi nggak ada salahnya kalau kita gantian bantuin lu." Jawab Dodo yang di setujui Tita dengan sekali anggukan.
Malam ini, kuhabiskan waktuku bersama sepasang anak manusia yang belum berani menyatakan status hubungan mereka. Kulantunkan sebuah lagu penuh harap yang sebenarnya kutujukan untukmu.



Jumat, 04 Juli 2014

Shinta Bicara

Aku masih ingin merasakan lembutnya belaian angin senja ini. Di sebuah ruangan yang selalu ku anggap hampa, namun pada kenyataannya teramat nyaman.
Sehelai bulu mataku jatuh terbawa belaian angin. Menari-nari begitu eloknya hingga berhenti tak berdaya di telapak tanganku. Warnanya yang hitam legam, kontras dengan warna pucat kedua telapak tanganku. Terlihat rapuh dan nampak kesepian.
Sama dengan hatiku. Tak terhitung berapa kali aku menunggu, berapa kali aku bersimpuh. Kenyataannya tak ada yang berubah. Dunia fana ini membuatku tak sabar. Untuk mengukir cinta yang tak pernah kutemukan.
Aku begitu kesepian, Tuhan.
Peluh ditubuhku tak bisa mengganti setetes air mata yang mengalir membasahi pipiku.
Dia begitu baik.
Dia begitu lembut.
Tapi dia, begitu sukar kugapai.

Rabu, 02 Juli 2014

Kata Dodo

Kalau disuruh nyebutin satu kata tentang mbak Mayang, gue bakal bilang "menarik".

Shinta Curhat

Oke. Masih di minggu awal bulan puasa. Saya Shinta, pemilik akun blog ini. Mencintai seni rupa hingga mendarah daging. Mencintai setiap kata yang tertulis karena terdengar seperti sebuah syair.
Stres melanda, waktunya untuk curhat. Sudah berkeluh kesah kepada Allah SWT, tapi tetap ingin menulis. Selamat membaca.

Aku tak yakin benar-benar menginginkan kekasih..
Sudah 3 hari ini semua masakan kubuat, dengan porsi cukup untuk 2 orang. Tapi sayang, aku sendiri. Menikmati masakan lezat ini.
Teman?
Tentu aku punya. Bahkan sahabat sejati masih bersamaku. Masih menegurku, juga mengajakku bicara.
Tapi, dia sudah punya kekasih. Tak mungkin juga seluruh waktunya dihabiskan untukku. Aku cukup tahu diri.
Buku?
Aku punya banyak. Bahkan ada beberapa yang belum kubaca. Tetap saja tidak mengobati rasa sepiku.
Sahabat, buku, ponsel dan sebagainya itu belum bisa mengobati hatiku.
Berpuluh statement yang dilontarkan Pak Mario Teguh, hanya bisa mengobati sedikit sekali kesendirian ini. 
Malam ini,
Aku masih jadi gadis pemimpi. Berimajinasi sesuka hati tanpa ada yang pembatasi. Aku suka. Tapi tetap tidak akan lama.

Selasa, 01 Juli 2014

Sekarang Giliran Tita


"Manusia penyabar itu
melihatku dari balik lamunan.
Dengan malu,
sesekali menangkap pandanganku.
Menjagaku dari kejauhan,
ketika lelah menghampiri."



Untaian kalimat indah itu terpampang sebagai walpaper telepon pintar seorang wanita. Setiap kalimat mengandung kerinduan mendalam dari empunya. Entah kepada siapa, yang jelas gue yakin itu untuk seorang pria yang telah lama ia nanti.