Masih ingat film Ayat-Ayat Cinta? Kisah romantis yang disuguhkan dengan nuansa religi. Untuk pecinta film, tentu saja nama Aisyah sudah tak asing lagi. Pemeran utama wanita yang di perankan oleh Riyanti C ini, sukses membuat penonton bergelimangan air mata.
Tentu saja hal ini disebabkan karena ketangguhan seorang istri yang mau berbagi suaminya kepada wanita lain.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita sebagai wanita mau menjadi seperti Aisyah?
Bisa dipastikan mayoritas wanita di Indonesia akan berkata "TIDAK". Itu wajar dan alamiah. Jika dipikir kembali, mungkin hanya wanita yang sangat sabar dan berjiwa besar yang berani membiarkan suaminya berpoligami. Lalu, jika ini terjadi kepada kita yang masih belia dan belum berstatuskan suami istri alias masih menjadi pasangan kekasih bagaimana?
Mendengar mantan pacar mempunyai kekasih baru saja kita sudah kalang kabut, apalagi diselingkuhi ketika masih berstatus pacaran. Sungguh luar biasa sakit hatinya.
Baru-baru ini seorang teman, sebut saja Aisyah. Sedang menceritakan keluh kesahnya tentang sang mantan pacar. Mulai dari kronologi mereka berpisah, sampai adanya kecurigaan Aisyah dengan sang pacar sebelum memutuskan untuk berpisah. Padahal Aisyah adalah anak yang baik. Alim dan manis. Hanya ada sedikit cerita lama yang membuatnya terkesan jahat. Tidak perlu diceritakan, itu hanya cerita Abg yang sedang dimabuk kepayang. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah sama-sama bisa berpikir.
Hal menarik yang disampaikan Aisyah adalah bagaimana dia masih mencintai pria yang ia pacari sampai 4,5 tahun tersebut hingga detik ini. Padahal pria itu sudah memiliki wanita idaman lain. Walaupun Aisyah mengamini hubungan pria ini, namun hatinya tetap menaruh harapan ketika si pria memberikan sedikit perhatiannya untuk Aisyah.
Jahat bukan? Lalu kenapa pria tersebut bisa melakukannya?
Tentu saja ada alasan dalam masalah ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah faktor orang tua. Ibu Aisyah lebih setuju jika putrinya berteman dekat dengan pria yang bermateri. Mungkin maksudnya agar si anak kelak tidak kekurangan sedikitpun. Yah, namanya juga orang tua. Tentu mau yang terbaik untuk anaknya.
Akhirnya sebuah saran kuberikan kepada Aisyah yang berumur satu tahun lebih muda dariku. Sebuah saran yang mungkin bisa mengobati sakit hatinya walau hanya sebentar. Ala-ala motivator di televisi aku berkata,"Aisyah. Kunci dari semua ini adalah PERCAYA. Percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kita. Percaya bahwa hanya lelaki bodoh yang menyianyiakan cinta tulus kita, serta percaya seandainya dia jodoh kita maka Tuhan akan mempertemukannya kembali. Namun kau jangan pernah percaya dengan mulut manisnya yang menelantarkanmu dan cinta tulusmu."
Sambil pamit pulang, kata-kata tersebut membuatku memantapkan hati untuk menghapus dirimu lebih dalam lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar